*BANYAK BICARA YANG TIDAK BERMANFAAT*
Banyak bicara yang tidak bermanfaat, yang tidak membawa kebaikan, yang bukan menjadi urusannya, yang melebihi kapasitasnya adalah sifat yang harus kita tinggalkan.
Sebab banyak terjadi kesalahan, kerusakan, fitnah, permusuhan, mendapat masalah bahkan kelak tersungkur ke dalam neraka di sebabkan oleh kebiasaan banyak bicara seperti di atas,
Maka hendaknya kita belajar menahan lisan atau lebih baik diam, jika sekiranya hal itu tidak membawa kebaikan dan dapat mendatang banyak dosa.
Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat”
Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau, kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya”
(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1:291).
Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah mengatakan:
“Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu, bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.”
(Al-Adzkar hal. 284)
Abu Ishaq Al Khowwash berkata,
"Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara, sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur.
(HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48)
Dengan demikian diam dari berbicara yang sia-sia, maka diamnya itu adalah emas.
Meski diam juga tak senantiasa berarti emas, jika bicaranya itu dari sesuatu yang perlu di suarakan maka berbicara menjadi intan,
Semua di sesuaikan dengan keperluan dan tujuan, apakah sebaiknya dia berbica atau sebaiknya dia diam ?
Orang yang beriman pasti akan dapat memposisikan itu, karena ia tahu apakah hal itu menjadi dosa atau pahala.
Ibnul Mubarok ditanya mengenai nasehat Luqman pada anaknya, lantas beliau berkata, “Jika berkata (dalam kebaikan) adalah perak, maka diam (dari berkata yang mengandung maksiat) adalah emas.”
(Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Maka jauhilah pembicaraan yang melebihi keperluan, cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya, kita harus senantiasa mengingat, setiap yang kita ucapkan, mencakup perkataan yang baik, yang buruk juga yang sia-sia akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saat mengawasi kita.,
_”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”_
(QS. Qaaf : 18)
Begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita dalam sabdanya:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kedepan kita dapat lebih bijaksana dalam menempatkan lisan kita, sehingga apa yang keluar dari lisan kita senantiasa mendatangkan manfaat dan pahala, bukan justru mendatangkan dosa.
Komentar
Posting Komentar