*KETIKA DUNIA TELAH MENYITA PIKIRAN KITA*
السَّلَامُ عَلَيْڪُمُ وَرَحْمَةُ اللَّٰهِہ وَبَرَڪَاتُهُہ
اَللَّٰہُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَیٰ سَیِّدِنَا مُحَمَّدِِ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
بِسْـــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحِيم
Di antara bentuk kelalaian yang terkadang tidak kita disadari adalah ketika dunia telah menyita akal dan pikiran seorang manusia.
Kita dapati akal dan pikiran kita, bahkan sejak bangun hingga tidur kembali, seluruhnya untuk memikirkan dunia.
Kita selalu berpikir, seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan pada hari ini...? dan seberapa besar kerugian yang mungkin akan dialami pada hari ini...?
Seseorang yang seluruh pikirannya untuk dunia, mereka akan berusaha mendapatkan dunia dengan tidak mempedulikan apakah harta yang dia dapatkan itu melalui jalan yang halal atau haram.
Dia tidak peduli sama sekali, apakah perniagaan yang dia lakukan itu disertai dengan dusta ataupun dengan menipu.
Jika dia menjadi pegawai, maka dia korupsi untuk mendapatkan uang yang seharusnya tidak berhak dia dapatkan.
Dalil yang menunjukkan tercelanya kecintaan terhadap dunia adalah adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu,
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam
bersabda,
*تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ*
”Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (kain yang memiliki beludru), dan budak khamishah (baju yang terbuat dari sutera atau wool), jika diberi, maka dia rida, dan jika tidak diberi, maka dia marah.”
(HR. Bukhari no. 2886)_
Apakah kita mengira budak dinar merupakan seseorang yang menyembah dinar?
Tentu saja jawabannya adalah *tidak*, yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah orang yang hatinya telah dikuasai oleh dinar dan dirham.
Sedangkan pada zaman sekarang, ”budak khamishah” adalah budak mode, dia selalu memaksakan diri untuk memiliki mode baju yang sedang digandrungi (trend) oleh masyarakat pada umumnya.
Mereka tidaklah memikirkan kecuali mempercantik diri, menurut mereka, hal-hal tersebut lebih penting dari shalat.
Sabda Rasulullah
shallallahu ’alaihi wasallam untuk budak dunia semacam itu,
*إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ*
”Jika diberi nikmat, maka dia rida. Jika tidak diberi nikmat, maka dia akan marah.”
Jika Allah Ta’ala
memberikan nikmat kepadanya, maka dia mengatakan bahwa Allah Ta’ala adalah Rabbyang Maha Pemurah, Maha Agung, dan Mahamulia yang berhak mendapatkan pujian.
Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menyrmpitkan rezekinya, maka dia marah kepada Allah Ta’ala.
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan sabdanya tentang pemuja dunia yang jika diberi, dia senang dan jika tidak diberi, maka dia marah,
*تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ*
”Celakalah dan semoga jatuh tersungkur (kepalanya dulu), jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut.”
(HR. Bukhari no. 2886)
Artinya, Allah Ta’ala
akan mempersulit semua urusannya, sampai sampai dia tidak mampu mencabut sebuah duri yang menusuk kakinya.
Kemudian, Rasulullah
shallallahu ’alaihi wasallam menceritakan kebalikan orang ini,
*طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ*
”Berbahagialah seorang hamba yang mengambil tali kendali kudanya untuk berjihad di jalan Allah, rambutnya kusut dan kedua telapak kakinya berdebu, jika dia ditugaskan di tempat penjagaan, maka dia tetap berjaga di situ, dan jika dia ditugaskan di posisi pasukan paling belakang, maka dia tetap berada di posisi paling belakang, dan jika dia minta izin, maka dia tidak diizinkan, dan jika dia sebagai perantara, maka dia tidak diterima sebagai perantara.”
(HR. Bukhari no. 2886)
Maksud dari hamba yang beruntung karena memegang tali kekang kudanya di jalan Allah adalah dia mempunyai kehidupan yang menyenangkan, baik di dunia dan di akhirat.
Hamba yang beruntung ini rambutnya acak-acakan dan telapak kakinya berdebu, sangat kontras dengan keadaan budak dunia dan budak mode pakaian.
Dia tidak peduli dengan keadaan dirinya karena yang paling dipikirkannya adalah beribadah dan mendapatkan ridha Allah.
Jika merasa kesulitan, maka dia tetap tegar berada di atas jalan yang sulit tersebut, dia tidak peduli di tempat mana dia diposisikan, selama diposisikan pada tempat yang dia bisa berjihad di dalamnya, maka dia akan tetap berada di posisi tersebut.
Tempat mana pun yang ditugaskan oleh panglima perang, dia menaatinya dengan tetap tegar dan komitmen berada di tempat tersebut, apapun yang akan terjadi, inilah orang yang beruntung dunia dan akhirat.
Subhanallah
BalasHapus