*SURGA YANG DI JANJIKAN *
السَّلَامُ عَلَيْڪُمُ وَرَحْمَةُ اللَّٰهِہ وَبَرَڪَاتُهُہ
اَللَّٰہُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَیٰ سَیِّدِنَا مُحَمَّدِِ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
بِسْـــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحِيم
*Proses Penduduk Surga Digiring Menuju Surga*
Bismillah wal hamdulillah, was sholaatu was salam ‘ala rasulillah waba’du.
Setelah penduduk surga nanti menjalani persidangan di Qonthoroh, yang tujuannya membersihkan mereka sebersih-bersihnya dari sekecil apapun dosa atau kezaliman, mereka setelah itu akan melanjutkan perjalanan menuju surga.
Mereka berjalan bersama-sama. Namun setiap orang akan bergbung dengan rombongan orang yang sejenis amal kebaikannya. Seperti orang-orang berilmu akan bersama orang berilmu, yang ahli dalam jihad akan bersama dengan mereka yang ahli jihad, ahli sedekah berjalan bersama ahli sedekah dst. Penduduk surga nanti akan terbagi menjadi rombongan-rombongan, sesuai amal mereka. Dan mereka juga akan masuk ke surga melalui pintu-pintu surga, sesuai amal mereka.
Benar kata Rasulullah Shallahu’alaihi wassalam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka” (HR. Abu Daud. Status hadis Shahih)
Berjalan bersama-sama, menuju surga Allah, tentu sangat indah. Semakin menambah kenikmatan mereka. Karena Allah maha tahu fitrah manusia, yang tergolong makhluk sosial, suka bergaul dengan orang lain. Hal ini memberi pesan kepada kita, untuk peduli dengan surga keluarganya, temannya dan orang lain.
Dalam masalah surga, tidak boleh seorang egois, hanya ingin sendirian masuk surga. Betapa semakin indah dan syahdu suasana ketika itu, saat kita berjalan Bersama menuju surga bersama ayah kita, ibu kita, anak-anak dan cucu-cucu kita, bertemu lagi dengan para sahabat kita, sungguh amat indah.
Allah ta’ala mengajarkan prinsip ini,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim :6)
Allah mengabarkan bagaimana proses perjalan penduduk surga ke surga nanti,
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (zumaro). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (QS. Az-Zumar : 73)
Imam Ibnu Katsir menerangkan makna Zumaro,
جماعة بعد جماعة، المقربون، ثم الأبرار، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم، كل طائفة مع من يناسبهم، الأنبياء والصديقون مع أشكالهم…
Berombong-rombongan. Para Muqorrobun (orang-orang yang dekat kepada Allah) kemudian Abror (orang-orang yang baik) kemudian rombongan berikutnya. Masing-masing masuk dalam rombongan yang sejenis amalannya. Para Nabi para Sidiqun akan Bersama yang sejenis mereka…
*Naik Kendaran*
Penduduk surga adalah para tamu Allah yang sangat spesial. Akankah Allah biarkan mereka berjalan lelah dari Qontoroh menuju pintu surga yang masih cukup jauh? Tentu tidak. Saat anda menjadi tamu kenegaraan seorang presiden atau raja, akankah ia membiarkan anda jalan kaki, berlelah-letih untuk menemui acaranya? Tentu tidak! Anda akan difasilitasi trasportasi yang nyaman;
pesawat dengan kursi VIP nya, dan akomodasi penginapan di hotel sangat nyaman. Maka tak mungkin Raja semesta alam membiarkan para tamunya kelak berlelah-letih jalan kaki ke surga. Mereka akan mendapatkan pelayanan yang luar biasa berkesan dan nikmat. Mereka akan dibawa menuju surga dengan penuh penghormatan dan kasih sayang.
Allah ta’ala mengabarkan bahwa penduduk surga adalah tamuNya yang istimewa,
يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَـٰنِ وَفْدًا
(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai tamu yang terhormat. (QS. Maryam : 85)
Ibnu Abbas menafsirkan makna “seabagai tamu yang terhormat”,
وَفْدًا ركبانًا؛
Maksudnya adalah naik kendaraan.
Nu’man bin Sa’id bercerita, “Kami pernah duduk ngobrol Bersama Ali radhiyallahu’anhu, lalu beliau membaca ayat ini,
يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَـٰنِ وَفْدًا
(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai tamu yang terhormat. (QS. Maryam : 85)
Kemudian beliau menjelaskan,
لا والله ما على أرجلهم يحشرون، ولا يحشر الوفد على أرجلهم، كلمة: وفد، وسوق الوفد، وإكرام الوفد، لا يكون بأن يتركون يمشون على أرجلهم، قال: ولكن بنوق لم ير الخلائق مثلها، عليها رحائل من ذهب، فيركبون عليها حتى يضربوا أبواب الجنة
Demi Allah, mereka tidak dibawa menuju surga berjalan kaki begitu saja. Tidak akan pernah tamu terhormat dibawa berjalan kaki. Kata wafdu/tamu mulia, maksudnya mereka dibawa ke surga layaknya tamu yang mulia, mendapat penghormatan layaknya tamu terhormat. Dan mereka tidak akan dibiarkan berjalan kaki.
Ali melanjutkan, “Akan tetapi mereka akan dibawa menuju surga dengan kendaraan yang belum pernah dilihat oleh sesuatu makhluk pun. Disiapkan kendaran dari emas, lalu mereka tunggangi, sampai mereka tiba di pintu surga.
(Riwayat : Ahmad 1332, Al Hakim 3425)
Subhanallah betapa indahnya perjalanan menuju surga…
*Aroma Surga Tercium dari Kejauhan*
Menuju surga, mereka sangat menikmati perjalanan. Mereka dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan menyejukkan, yang akan membuat mereka makin rindu dengan surga. Diantaranya, aroma surga yang semerbak wangi, tercium dari kejauhan.
Nabi shallallahualaihi wa sallam menceritakan,
وإن ريحها توجد من مسيرة أربعين عاماً
Sungguh aroma surga itu dapat tercium mulai dari perjalanan empat puluh tahun. (HR. Bukhori)
Bahkan dalam hadis yang lain dijelaskan,
وريحها يوجد من مسيرة سبعين عاماً
Aroma surga dapat tercium sejak perjalanan tujuh puluh tahun. (HR. Nasa-i)
Bisa dibayangkan betapa semakin memuncaknya kerinduan penduduk surga nanti saat berjalan menuju surga. Dari kejauhan, mereka dapat mencium aroma surga. Karena aroma, akan memunculkan kerinduan.
Semoga kita termasuk yang merasakan kejadian indah ini…
Wallahua’lam
*MANUSIA YANG PERTAMA DAN TERAKHIR MASUK SURGA*
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Terdapat beberapa hadis shahih yang menyatakan tentang adanya orang yang masuk surga terakhir. Hanya saja dalam hadis itu sama sekali tidak disebutkan nama orangnya. Diantaranya,
Pertama, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentang kejadian di akhirat dalam hadis yang sangat panjang, kemudian beliau bersabda,
ثُمَّ يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ
Kemudian setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba dan tinggalah seseorang antara surga dan neraka. Dan dialah penghuni neraka yang terakhir masuk surga. (HR. Bukhari 806)
Kedua, hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ اعْرِضُوا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوبِهِ وَارْفَعُوا عَنْهُ كِبَارَهَا؛ فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوبِهِ فَيُقَالُ عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ نَعَمْ. لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَ وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ. فَيُقَالُ لَهُ فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً. فَيَقُولُ رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لاَ أَرَاهَا هَا هُنَا
Sungguh saya tahu orang paling akhir masuk surga dan penduduk neraka yang paling terakhir keluar neraka. Dia adalah orang yang didatangkan pada hari kiamat, kemudian malaikat diperintahkan, ‘Tunjukkan dosa-dosa kecil kepadanya, dan sembunyikan dosa-dosa besarnya.’
Kemudian ditampakkan dosa-dosa kecilnya, dan dia ditanya, ‘Kamu pernah melakukan dosa ini ada hari ini?’ ‘Kamu juga pernah melakukan dosa itu di waktu yang lain?’
“Benar.” jawabnya. Dia tidak mampu untuk mengelaknya. Sementara dia merasa sangat takut dengan dosa besarnya jika ditampakkan.
Kemudian Allah memutuskan,
“Setiap dosa itu akan digantikan dengan pahala.”
Kemudian orang ini mengatakan, “Ya Rab, saya memiliki dosa besar lainnya yang belum aku lihat…”
Setelah menyampaikan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum. (HR. Muslim 487)
Kita wajib mengimani hadis ini, sebagai bagian dari konsekuensi syahadat kita yang mengakui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah. karena berita yang beliau sampai, pasti dari wahyu.
Di saat yang sama, kita juga tidak boleh memastikan siapa nama orang yang terakhir masuk surga, dan bagaimana ciri-cirinya. Karena yang semacam ini tidak disebutkan dalam dalil. Sementara kita tidak boleh berbicara yang ghaib tanpa dalil.
*Orang yang Pertama Masuk Surga*
Orang yang pertama masuk surga adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada banyak dalil tentang masalah ini, diantaranya,
[1] Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita,
آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ : مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ : مُحَمَّدٌ ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Pada hari kiamat, aku mendatangi pintu surga, lalu aku minta agar dibukakan. Sang penjaga pintu bertanya, “Siapa kamu?”
Aku jawab, “Muhammad.”
Kemudian penjaga ini menyatakan, “Aku diperintahkan untuk membuka karenamu. Tidak akan aku buka pintu surga bagi siapapun sebelum kamu.” (HR. Muslim 507)
[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang pertama mengetuk pintu surga.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا أَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ
“Saya adalah nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat. Dan saya orang yang pertama kali mengetuk pintu surga.” (HR. Muslim 505, Ibnu Hibban 6481 dan yang lainnya).
[3] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, beliau pertama masuk surga,
أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا فَخْرَ
Saya orang yang pertama masuk surga di hari kiamat. Dan bukan untuk sombong. (HR. Ahmad)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tambahkan, “bukan untuk sombong…” beliau tambahkan demikian untuk menegaskan bahwa beliau cerita semacam ini untuk menanamkan keyakinan tentang berita tentang akhirat. Artinya, siapapun wajib meyakini bahwa beliau adalah orang yang pertama kali masuk surga.
Allahu a’lam.
*MENGENAl QONTHOROTH, TEMPAT ANTARA SHIROT DAN SURGA*
Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah wa ba’du.
Setelah orang-orang beriman berhasil melewati shiroth, mereka kelak akan sampai di sebuah tempat yang disebut Qonthoroh. Suatu tempat yang terletak setelah shiroth (jembatan di atas neraka jahanam), sebelum surga.
Qonthoroh merupakan tempat terakhir yang akan dilalui oleh manusia, berupa jembatan yang menghubungan mereka ke surga. Karena tempat-tempat di hari kiamat yang akan dilalui manusia, banyak. Ada Padang Mahsyar, Mizan, Shiroth, para ulama menyebutnya “Mawaqif Yaumil Qiyamah” (tempat-tempat di hari kiamat). Qonthoroh adalah yang terakhir.
Para ulama berbeda pendapat tentang Qonthoroh, apakah ia terusan jembatan Shiroth atau jembatan sendiri :
Sebagian menyimpulkan, Qonthoroh adalah terusan jembatan Shiroth atau ujungnya shiroth.
Sebagian yang lain menyatakan bahwa Qonthoroh adalah jembatan tersendiri.
Pendapat kedua ini lebih kuat insyaallah. Qonthoroh jembatan tersendiri yang terpisah dari Shiroth. Karena dari segi letak, kedua jembatan ini berbeda. Shiroth berada di atas neraka, sementara Qonthoroh terletak antara neraka dan surga.
Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda :
يخلص المؤمنون من النار فيحبسون على قنطرة بين الجنة والنار
Setelah orang-orang beriman berhasil selamat dari neraka, mereka akan ditahan di Qonthoroh, yang terletak antara surga dan neraka… (HR. Bukhori)
Jika kita katakan Qonthoroh adalah ujung / terusannya jembatan Shiroth, tentu tidak bisa dikatakan Qonthoroh berada di antara neraka dan surga. Karena Shiroth terletak di atas neraka, dan tentu terusan Shiroth adalah Shiroth yang sama, terbentang di atas neraka. Sementara letak Qonthoroh disebutkan dalam hadis, di antara surga dan neraka, artinya antara Shiroth yang terbentang di atas neraka, dan surga. Sehingga kesimpulan bahwa Qonthoroh ujungnya Shiroth kurang tepat, bertentangan dengan hadis di atas.
Imam Al ‘Aini rahimaullah dalam ‘Umdatul Qori menegaskan,
إن الحديث مصرح بأن تلك القنطرة بين الجنة والنار وهو يقول إنها طرف الصراط من الصراط، وقوله بين، يدل على أنها قنطرة مستقلة غير متصلة بالصراط، وهذا هو المعنى قطعا
Hadis yang menjelaskan tentang keberadaan Qonthoroh jelas menegaskan bahwa Qonthoroh terletak di antara surga dan neraka, sementara ada ulama yang mengatakan bahwa Qonthoroh adalah ujungnya Shiroth. Sabda Nabi yang menyatakan,”Qonthoroh di antara surga dan neraka,” menunjukkan bahwa Qonthoroh adalah jembatan tersendiri, tidak bersambung dengan Shiroth. Makna ini sangat tegas dalam hadis. (‘Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhori, 12/400 – 401)
*Apa yang Terjadi di Qonthoroh.?*
Di Qonthoroh kelak, akan dilaksanakan kembali persidangan (hisab). Untuk menebus sisa-sisa kezoliman yang sebagian besarnya telah diselesaikan di Yaumul Hisab, padang Mahsyar. Sehingga penduduk surga nanti saat memasuki surga, tak lagi sedikitpun menyimpan dendam dan kebencian. Segala yang mengganjal berupa kezoliman-kezoliman kecil, telah diselesaikan seadil-adilnya di persidangan Allah di Qonthoroh. Allah berfirman tentang kondisi penduduk surga saat dimasukkan ke dalam surga nanti,
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mereka masuk ke dalam surga yang mengalir di bawah mereka sungai-sungai. (QS. Al-A’rof : 43)
Sahabat Abu Saíd Al Khudriy –radhiyallahu’anhu– menceritakan sabda Nabi shallallahu’alahi wa sallam yang menjelaskan peristiwa yang terjadi di Qonthoroh :
يخلص المؤمنون من النار فيحبسون على قنطرة بين الجنة والنار، فيقص لبعضهم من بعض مظالم كانت بينهم في الدنيا، حتى إذا هذبوا ونقوا أذن لهم في دخول الجنة، فوالذي نفس محمد بيده لأحدهم أهدى بمنزله في الجنة منه بمنزله كان في الدنيا
“Orang-orang beriman yang telah selamat dari neraka (setelah melewati Shiroth) akan tertahan di Qonthoroh (sebuah jembatan) di antara surga dan neraka. Kemudian ditegakkanlah qishosh terhadap sebagian mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan (dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih paham terhadap tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya di dunia.” (HR. Bukhari)
*Mungkinkah Kembali ke Neraka.?*
Yang akan digunakan sebagai penebus kezoliman adalah pahala. Rupiah tak lagi bermanfaat ketika itu. Namun, jika pahala harus menjadi tebusan, itu tak sampai menjadikan mereka kembali lagi ke neraka. Karena kezoliman yang disisakan untuk ditebus di Qonthoroh, adalah kezoliman-kezoliman kecil yang tak sampai menjadikan pelakunya kembali ke neraka.
Sebagaimana penjelasan dalam Syarah Akidah Thohawiyah, Oleh Syekh Ibnu Útsaimin rahimahullah berikut,
وهذا القصاص غير القصاص الأول الذي في عرصات القيامة؛ لأن هذا قصاص أخص، لأجل أن يذهب الغل والحقد والبغضاء التي في قلوبهم، فيكون هذا بمنزلة التنقية والتطهير، وذلك لأن ما في القلوب لا يزول بمجرد القصاص
“Qishosh (pembalasan kezoliman) di Qonthoroh tidak seperti qishosh pertama di Padang Mahsyar. Karena qishosh di Qonthoroh ini lebih khusus, yang bertujuan mengikis kedengkian, dendam dan kebencian dalam hati mereka. Sehingga persidangan di Qonthoroh nanti fungsinya penjernihan atau pen-filteran. Hal ini karena penyakit dalam hati tak hilang hanya dengan qisos saja. (Syarah Akidah Washitiyah, 2/163)
Komentar
Posting Komentar