*KISAH NABI ISMAIL عليه السلام MENCERAIKAN ISTRINYA KARENA TIDAK BERSYUKUR*
بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Dalam sebuah riwayat terdapat Kisah Nabi Ismail عليه السلام menceraikan istrinya karena tidak bersyukur.
Nabi Ibrahim عليه السلام dikenal sebagai bapaknya para Nabi karena keturunannya banyak yg diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Al-Qur'an menyebut nama Nabi Ibrahim عليه السلام sebanyak 69 kali. Beliau termasuk Rasul Ulul Azmi bersama Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Ketika Makkah belum dihuni manusia, wilayah itu tandus dan tak ada mata air. Nabi Ibrahim عليه السلام meninggalkan istrinya Sayyidati Hajar bersama putranya Ismail ng masih bayi. Sayyidah Hajar memilih tempat tinggalnya di dekat Baitullah.
Di tengah gersangnya Makkah kala itu, Allah ﷻ mengkaruniakan air suci yg keluar dari perut bumi sehingga Ibunda Hajar bisa menyusui putranya dan menggunakan air itu sebagai penghidupan mereka. Inilah awal mula munculnya mata air Zamzam yg dibendung oleh Sayyidati Hajar dg tangannya hingga terus mengalir hingga sekarang.
Ketika Nabi Ismail عليه السلام tumbuh dewasa, ia pun menikah dg seorang perempuan yg tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama kemudian ibu Ismail, Siti Hajar meninggal dunia.
Pada suatu ketika, Nabi Ibrahim عليه السلام datang ke Mekkah untuk mengunjungi anaknya, yaitu Nabi Ismail عليه السلام untuk mengetahui kabarnya. Saat itu Nabi Ismail عليه السلام sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi berburu. Nabi Ibrahim عليه السلام pun menemui istri Nabi Ismail عليه السلام dan bertanya ke mana suaminya dan apa pekerjaannya.
Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami".
Lalu Nabi Ibrahim عليه السلام bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab,
نَحْنُ بِشَرٍّ ، نَحْنُ فِى ضِيقٍ وَشِدَّةٍ
“Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yg berat".
Istri Ismail mengadukan kehidupan yg dijalaninya bersama suaminya kepada Nabi Ibrahim عليه السلام.
Nabi Ibrahim عليه السلام berkata,
فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِى عَلَيْهِ السَّلاَمَ ، وَقُولِى لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ
“Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya".
Ketika Nabi Ismail عليه السلام datang dia merasakan sesuatu, lalu dia bertanya kepada istrinya;
هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ
“Apakah ada orang yg datang kepadamu ?”.
Istrinya menjawab,
نَعَمْ ، جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا ، فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ ، وَسَأَلَنِى كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِى جَهْدٍ وَشِدَّةٍ
“Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan".
Nabi Ismail عليه السلام bertanya,
فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَىْءٍ
“Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu ?”.
Istrinya menjawab,
نَعَمْ ، أَمَرَنِى أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ ، وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ
“Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu".
Nabi Ismail عليه السلام berkata,
ذَاكِ أَبِى وَقَدْ أَمَرَنِى أَنْ أُفَارِقَكِ الْحَقِى بِأَهْلِكِ
“Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu".
Maka Nabi Ismail عليه السلام menceraikan istrinya.
Kemudian Nabi Ismail عليه السلام menikah lagi dg seorang perempuan lain dari kalangan penduduk yg tinggal di sekitar itu, lalu Nabi Ibrahim عليه السلام pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yg dikehendaki Allah ﷻ. Setelah itu, Nabi Ibrahim عليه السلام datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Nabi Ismail عليه السلام hingga akhirnya dia mendatangi istrinya, lalu bertanya kepadanya tentang Nabi Ismail عليه السلام.
Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami".
Lalu Nabi Ibrahim عليه السلام bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian ?”.
Dia bertanya kepada istri Nabi Ismail عليه السلام tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka.
Istrinya menjawab,
نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ
“Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup".
Istri Nabi Ismail عليه السلام juga memuji Allah ﷻ.
Nabi Ibrahim عليه السلام bertanya,
مَا طَعَامُكُمْ
“Apa makanan kalian ?”.
Istri Nabi Ismail عليه السلام menjawab,
اللَّحْمُ
“Daging".
Nabi Ibrahim عليه السلام bertanya lagi,
فَمَا شَرَابُكُمْ
“Apa minuman kalian ?".
Istri Nabi Ismail عليه السلام menjawab,
الْمَاءُ
“Air".
Maka Nabi Ibrahim عليه السلام berdo'a,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِى اللَّحْمِ وَالْمَاءِ
“Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka".
قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ ، وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ » . قَالَ فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلاَّ لَمْ يُوَافِقَاهُ .
Nabi ﷺ bersabda, “Saat itu belum ada biji-bijian di Makkah dan seandainya ada tentu Ibrahim sudah mendo'akannya". Sabda beliau lagi, “Dan dari do'a Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorang pun selain penduduk Makkah yg mengeluh bila yg mereka dapati hanya daging dan air"
Nabi Ibrahim عليه السلام selanjutnya berkata,
فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِى عَلَيْهِ السَّلاَمَ ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ
“Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya".
Ketika Nabi Ismail عليه السلام datang, dia berkata
هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ
“Apakah ada orang yg datang kepadamu ?”.
Istrinya menjawab,
نَعَمْ أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ ، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ ، فَسَأَلَنِى عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ ، فَسَأَلَنِى كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ .
“Ya. Tadi ada orang tua dg penampilan sangat baik datang kepada kita dan istrinya memuji Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu, maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik".
Nabi Ismail عليه السلام bertanya,
فَأَوْصَاكِ بِشَىْءٍ
“Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu ?”.
Istrinya menjawab,
نَعَمْ ، هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ
“Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu".
Nabi Ismail عليه السلام berkata,
ذَاكِ أَبِى، وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ ، أَمَرَنِى أَنْ أُمْسِكَكِ
“Dialah ayahku dan palang pintu yg dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu". Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka sampai waktu yg Allah kehendaki".
(HR. Bukhari, no. 3364)
Pelajaran Penting Dari Kisah
• Pertama
Boleh menuruti keinginan orang tua untuk menceraikan istri jika memang ada sebab yg benar. Namun menuruti semua keinginan orang tua dalam hal menceraikan tidaklah harus.
Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه, ia berkata,
كَانَتْ تَحتِى اِمْرَأَةٌ وَكُنْتُ أُحِبُّهَا، وَكَانَ عُمَرُيَكْرَهُهَا،فَقَالَ لِى :طَلِّقْهَا، فَأَبَيْتُ، فَأَتَى عُمَرُ رضى اللَّه عنه النَّبِيِّ صلّى اللّه عليه وسلم، فَدَكَرَذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلّى اللّه عليه وسلم : طَلِّقْهَا
“Aku mempunyai seorang istri serta mencintainya dan Umar tidak suka kepada istriku. Kata Umar kepadaku, ‘Ceraikanlah istrimu’, lalu aku tidak mau, maka Umar datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakannya, kemudian Nabi ﷺ berkata kepadaku, ‘Ceraikan istrimu’”.
(HR. Abu Daud, no. 5138; Tirmidzi, no. 1189; dan Ibnu Majah 2088)
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ رضي الله عنه bahwa ada seorang datang kepadanya berkata,
إِنِّ لِى امْرَأَةً وَإِنِّ أُمِّى تَأْمُرُنِى بِطَلاَقِهَا؟ فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَلهِّ صلّى اللّه عليه وسلم يَقُولُ (الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ) فَإِنْ شِئْتَ فَاضشعْ ذَلِكَ الْبَابِ أَوِاحْفَظْهُ
“Sesunggguhnya aku mempunyai seorang istri dan ibuku menyuruh untuk menceraikannya. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Orang tua itu adalah sebaik-baik pintu surga, seandainya kamu mau maka jagalah pintu itu jangan engkau sia-siakan maka engkau jaga".
(HR. Tirmidzi)
• Kedua
Tidak semua masalah rumah diberitahu orang luar, sampai pun pada mertua.
• Ketiga
Diperintahkan untuk qanaah, dan istri yg jelek adalah yg tidak qanaah.
Istri pertama adalah istri yg tidak bersyukur. Dalam Fath Al-Bari (6:604), istri pertama ini bernama ‘Amarah binti Sa’ad bin Usamah. Pada hadits Abu Jahm disebutkan bahwa istrinya adalah bintu Shada, tanpa menyebut namanya. As-Suhaili menceritakan bahwa namanya adalah Jaddi binti Sa’ad.
Bentuk rasa tidak syukurnya, ia menyatakan bahwa ia dan Nabi Ismail عليه السلام dalam keadaan penuh kekurangan. Dalam Fath Al-Bari (6:604) dinyatakan bahwa ia menyebut di rumah tidak ada makanan dan minuman.
Istri kedua sendiri bernama Samah binti Muhalhil bin Sa’ad, ada pula yg menyatakan bahwa nama istri keduanya adalah ‘Atikah. Istri kedua menerima keadaan dg Nabi Ismail عليه السلا apa adanya.
• Keempat
Mengganti palang pintu rumah adalah kata kinayah (kiasan) untuk talak.
• Kelima
Istri pertama menyifati Nabi Ibrahim عليه السلام dg sebutan laki-laki tua, tanda merendahkan.
Sedangkan istri kedua menyebut Nabi Ibrahim عليه السلام dg laki-laki tua yg berperawakan dan berwajah bagus, dan berbau wangi. Lihat Fath Al-Bari, 6:604 dan 6:605.
• Keenam
Keutamaan air, daging, dan susu.
• Ketujuh
Keutamaan suami bekerja dan istri berada di rumah.
• Kedelapan
Pekerjaan Nabi Ismail عليه السلام -sebagaimana disebutkan dalam Fath Al-Bari (6:404) adalah berburu-. Berburu termasuk pekerjaan yg dibolehkan.
• Kesembilan
Perintah orang tua selama tidak dalam maksiat tetap ditaati kecuali menimbang maslahat.
• Kesepuluh
Boleh menitipkan salam.
والله عالم بشواب ...
Semoga kita dapat mengambil Pelajaran dari Kisah ini.
Komentar
Posting Komentar