*MENTAATI PEMIMPIN MUSLIM*


 Bismillah 

 Assalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

Saudaraku...

Mentaati pemimpin muslim adalah wajib, baik pemimpin tersebut dari orang merdeka ataupun budak hamba sahaya. Ataupun pemimpin tersebut zalim ataupun fasik atau tidak menerapkan syariat, berdasarkan dalil dan pendapat para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim).

Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

“Aku wasiatkan kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Berkata Syueb Al Arnuth : Hadits Shahih].

Berkata Imam Ahmad rahimahullah:

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر ومن ولي الخلافة واجتمع الناس عليه ورضوا به ومن عليهم بالسيف حتى صار خليفة وسمي أمير المؤمنين

Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum mukminin, dia orang baik maupun orang fasik, atau kepada orang yang memegang tampuk khilafah, disepakati masyarakat, dan mereka ridha kepadanya, atau kepada orang yang menguasai mereka dengan paksa (pemberontakan atau kudeta) sehingga dia menjadi khalifah dan dinobatkan sebagai pemimpin kaum muslimin. (Ushul Sunah, no. 15).

Ketataan kepada pemimpin tidak sama dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Ketaatan kepada pemimpin hanya kepada perkara yang baik.

Sedangkan ketaatan kepada Allah dan Rasulnya adalah mutlak, sebagaimana perkataan ulama mengenai lafadz أَطِيعُوا yang di ulang dua kali hanya untuk Allah dan RasulNya dan tidak diulang ketika kepada ulil amri di dalam surah An Nisa ayat 59, ini menunjukan bahwa taat kepada Allah dan RasulNya dalam segala hal, dan taat kepada pemimpin hanya kepada yang ma’ruf (baik) saja.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (النساء : 59).

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisa : 59).

Kalau mereka memerintahkan kepada maksiat, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Karena ketaatan hanya kepada perkara yang baik.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ ، وَلاَ طَاعَة.

Mendengar dan taat diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.(HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ.

Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang baik. (HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوف

Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya kepada hal yang baik. (HR. Muslim).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam maksiat kepada Allah Azza wa Jalla (HR. Ahmad. Berkata Syekh Arnuth isnad shahih atas syarat Bukhari Muslim). 

Sebagian orang, menuduh dai-dai Ahlussunnah yang menasehati kaum muslimin untuk mentaati pemimpin muslim dalam perkara yang makruf dikatakan murji'ah. Begitulah keadaannya sejak zaman dahulu, Ahlussunnah dituduh sebagai murji'ah. Dan yang menuduh itu adalah orang-orang Khawarij. Dan sekarang, neo Khawarij juga menuduh demikian. 

Berkata IImam Ahmad rahimahullahu :

الخوارج يسمون أهل السنة والجماعة مرجئة وكذبت الخوارج

“Khawarij itu mereka menjuluki Ahlus sunnah wal jama’ah sebagai Murji’ah dan Khawarij telah berdusta. (Thabaqat Al-Hanabilah 1/36).

Dalam teks lain, Imam Ahmad rahimahullah berkata :

وأما الخوارج فإنهم يسمون أهل السنة والجماعة مرجئة ، وكذبت الخوارج ، بل هم المرجئة يزعمون أنهم على إيمان - دون الناس - ومن خالفهم كفار

“Dan adapun khawarij maka sesungguhnya mereka menjuluki Ahlus sunnah wal jama’ah sebagai Murji’ah dan Khawarij telah berdusta, bahkan sebenarnya mereka lah yang Murji’ah, mereka mengklaim sesungguhnya hanya mereka yang diatas keimanan, sedangkan manusia yang lain tidak, dan mereka mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka”. (Thabaqat Al-Hanabilah 1/36).

Seseorang ahli ibadah dari kalangan khawarij datang kepada Ibnu Mubarok rahimahullah, lantas dia berkata :

يا أبا عبد الرحمن ما تقول فيمن يزني ويسرق ويشرب الخمر؟ قال لا أخرجه من الإيمان، فقال: يا أبا عبد الرحمن على كبر السن صرت مرجئا؟ فقال: لا تقبلني المرجئة. المرجئة تقول: حسناتنا مقبولة، وسيئاتنا مغفورة، ولو علمت أني قبلت مني حسنة لشهدت أني في الجنة

“Wahai Abu Abdurahman (yakni Ibnu Mubarak), apa pendapatmu terhadap seorang pezina, pencuri, dan peminum khamer?”. Beliau menjawab, “Aku tidak mengeluarkan mereka dari keimanan”. Maka lelaki itu menukas: “Wahai Abu Abdurahman, sudah tua-tua begini kamu malah jadi murji’ah”. Abdullah bin Mubarak menimpali, ”Tidak, justru kami (Ahlus sunnah) bersebrangan dengan orang murji’ah. Murji’ah mengatakan: ‘Kebaikan-kebaikan kita pasti diterima, sedangkan kejahatan-kejahatan kita pasti diampuni’. Seandainya aku (Ibn Mubarak) tahu bahwa kebajikanku sudah diterima, niscaya aku bersaksi bahwa aku masuk jannah”. (Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal 80-81 dan Risalah Al-Ghoniyah karya Imam Al-Khothobi hal. 47).

Dalam kisah yang lain, datang seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Mubarak rahimahullah :

ترى رأي الإرجاء فقال كيف أكون مرجئا فأنا لا أرى رأي السيف

Apakah engkau menganut pemikiran Murji’ah?” Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku berpemahaman Murji’ah sementara aku tidak menghalalkan darah kaum muslimin!” (Syarh Madzhab Ahlus Sunnah no. 17).

Komentar

Postingan Populer