*SABAR ITU NIKMAT YANG AGUNG*
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Anas radliyallรขhu 'anhu bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu menjawab, “Menyingkirlah dariku, sesungguhnya engkau tidak mendapatkan musibah sepertiku.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, sedangkan wanita itu tidak mengetahui siapa orang itu, lalu orang-orang memberitahukan kepadanya, bahwa sesungguhnya dia adalah Rasulullah shalllalahu ‘alaihi wa sallam. Maka pada saat itu juga, wanita itu pergi mendatangi rumah Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta maaf kepadanya namun dia tidak menemukan orang yang menjaga rumah Nabi shalllallahu 'alaihi wasallam. Setelah bertemu dia berkata, “Maaf tadi aku belum mengenalmu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
ุฅَِّูู َุง ุงูุตَّุจْุฑُ ุนِْูุฏَ ุงูุตَّุฏْู َุฉِ ุงْูุฃَُْููู
“Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan/guncangan yang pertama.” (Muttafaq ‘alaih).
Sabda beliau, “Sabar itu hanya pada benturan/guncangan pertama.” Maksudnya, kesabaran yang pemiliknya dipuji oleh Nabi dengan segala pujian adalah saat orang itu bersabar di awal musibah yang tiba-tiba terjadi. Atau dengan kata lain, Hakikat sabar yang sebenarnya adalah saat pertama kali seseorang mendapatkan musibah dan ia bersabar.
Faedah Hadits:
1. Penjelasan tentang perhatian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam terhadap permasalahan umatnya yang patut diteladani oleh para pemimpin;
2. Anjuran memberikan nasihat kepada orang yang tertimpa musibah;
3. Perintah untuk bertakwa dan makna takwa adalah mengerjakan semua perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya;
4. Kewajiban bersabar saat mendapatkan musibah;
5. Penegasan bahwa menangis secara berlebih lebihan dapat mengurangi atau membatalkan pahala musibah, karena tidak selaras dengan makna sabar ketika musibah. Adapun meneteskan air mata, bersedih dan menangis secara wajar saat musibah maka tidak mengapa;
6. Ketawadhuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana beliau sebagai seorang pemimpin tidak tinggal di rumah mewah dan megah yang dijaga oleh para pengawal dan terbatas dalam menerima tamu serta bersikap eksklusif dari masyarakat umum;
7. Kewajiban meminta maaf ketika seseorang melakukan kesalahan baik yang disengaja atau yang tidak disengaja sebagaimana yang dilakukan oleh wanita itu dengan datang ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan minta maaf kepada beliau;
8. Perintah memberikan maaf dan permakluman kepada orang lain yang melakukan kesalahan kepada kita tanpa sengaja dan tanpa sepengetahuannya;
9. Hakikat sabar yang sebenarnya adalah saat pertama kali seseorang mendapatkan musibah.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar